Rabu, 06 Maret 2013

peri hutan

Mungkin ini dongeng atau mungkin ini memang kisah nyata, entah apapun itu please read this note's.
Once upon a time ditemukan peri kecil yang mencari udara dipagi hari, dia menangis dan memanggil nama seseorang, ditengah hutan dia terbang mencari disetiap sela tumpukan jerami dan ribuan akar pohon. Entah makhluk apa yang ia cari mungkin teman yang tak pernah ia lihat senyumnya akhir-akhir ini atau binatang buas yang ingin dia bangunkan dari hibernasinya?
Dia merasakan sepi, tak ada teman yang enggan ingin selalu bersamanya. Kupu-kupu cantik pun lebih senang berada ditumpukan bunga dan tak ingin menemaninya terbang. Sang peri terus mengitari hutan disetiap pagi. Pada hari kedua ia memutuskan untuk pergi mencari sesuatu itu ke luar hutan, meski orang tua peri tak mengijinkan dan diancam kedua orang tuanya "jika kau tinggalkan hutan ini, jangan harap kau dapatkan semua yang telah kami beri" sang ayah mengatakan dengan tegas. "Jika memang kau harus pergi dari hutan ini, bawalah salah satu pengawal dari hutan agar tetap bisa menjagamu" ujar sang bunda. "Baiklah kalau itu mau kalian, aku akan pergi tanpa pengawal, aku sudah besar jangan mengaturku lagi, aku ingin seperti yang lain untuk pergi jauh merantau aku takkan lama aku akan segera pulang jika apa yang aku cari telah aku temui" sang peri terus membatah. Keesokan harinya sang peri kecil terbang diam-diam menghampiri pantai yang indah, ia tak menemukan siapapun disana untuk diajak berteman. Ia putuskan untuk meneruskan perjalanannya esok pagi. Ditengah dinginnya malam ia mencari keramaian tapi ia tak temukan itu. Ia sedih, rasanya ia ingin menenggelamkan diri ke lautan itu, atau terkubur bersama pasir putih. Entah apapun itu agar ia lenyap dari kehidupannya.
Dihari berikutnya ia terbangun menyadarkan segalanya bahwa ia berada di atas bukit namun gelap. Sang peri bingun tidak percaya melihat keramaian yang ia rasakan, ramai namun sunyi, tenang dan hangat. "Apa ini mimpi?" Tanyanya. "Tidak, kau tidak bermimpi, jadikanlah ini rumah keduamu, jika kau gundah datanglah kemari, agar aku hapus segala kekhawatiran dan rasa sepimu" ujar sang bintang. "Kau siapa?" Tanya peri. "Aku bintang yang akan menemani kesendirian dan kesedihanmu, kau tak sendiri, Tuhan kirimkan aku untukmu" jelasnya. "Benarkah? Terima kasih kau mau menjadi temanku, aku dihutan selalu sendiri, aku tak punya teman, bahkan aku tak ahli seperti yang lain untuk terus terbang sesuka hati, sayapku cacat, seorang manusia telah merobeknya dengan panah sampai aku kehilangan teman-temanku, apa kau akan setia menerima kekuranganku?" Pinta sang peri. "Hohoho pastinya, aku juga tak sempurna, lihat kakiku dia tidak mengeluarkan cahaya, aku tak seperti bintang yang lain, mungkin kita bisa saling melengkapi, datanglah padaku jika kau sedih, butuh teman, atau merasa sepi akan hidupmu, aku akan menemanimu dan menerangimu" perjelas sang bintang. "Baiklah semoga kau dapat menggenggam janji itu erat ya". Dalam keheningan malam sang peri menatap sang bintang, cahaya yang ia pancarkan bagaikan lampu ajaib namun bukan lampu ajaib yang dimili aladine. Damai, tenang, dan hangat itu yang dirasakan peri saat bersama sang bintang.
Semenjak hari itu, sang peri setiap malam selalu pergi ketempat itu selain menenangkan dirinya, ia juga ingin terus memiliki teman seperti sang bintang.
Meski mereka berbeda tapi mereka setia untuk slalu berteman. Meski mereka tak sempurna tapi mereka selalu saling melengkapi kekurangan satu sama lain. Bukankah itu baik?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar