Sabtu, 09 Agustus 2014
cinta yang tau
Entah ini tulisan keberapa yang ku tuliskan disini. Sampai detik ini cerita tentangmu tak pernah berakhir. Bahkan aku lupa sudah berapa tahun aku menunggu. Andai kau bertanya ''menunggu siapa?'' aku akan menjawab menunggumu, tapi sayang kau tak pernah lontarkan pertanyaan itu. Bagai seekor katak yang menunggu hujan datang di awal musim kemarau itulah aku. Yang berharap akan ada air ditengah gurun pasir dan menunggu mentari di kutub utara, inilah rasaku.
Terlihat palsu ketika aku berkata ''aku baik-baik saja dengan rasaku'', tapi aku tak ingin terlihat lemah dihadapanmu jika aku berkata ''aku sedih karna kau tak mencukupi rasaku''.
Detak jantungku selalu berdegup layaknya pacuan kuda, ketika aku mendengar namamu. Nafasku sesak ketika mendengar cerita tentangmu. Bagaimana bisa kau hidup sepertiku yang selalu dihantui bayangmu meski kau tak lagi terlihat dimataku tapi pikirku tak pernah berhenti bersajak tentangmu. Bagaimana bisa kau rasakan sedikit rasaku jika ada gadis lain yang selalu ada ditiap bait puisi hatimu.
Aku bukan kertas putih yang selalu dapat kau tuliskan rasamu kepadanya. Aku bukan pena yang dapat menyatakan rasamu kepadanya. Tapi aku penghapus yang berusaha menghapusmu dari ingatanku.
Ku pikir dengan berlari ditengah kesepian tak dapat membuat aku terlihat lemah tapi nyatanya aku terjatuh. Aku berusaha menghapus segalanya tentangmu tapi senyummu, saat kita bersama itu selalu menghantuiku. Tak terlihat lebih baik ketika aku tak bersamamu lagi, sebenarnya.
Tapi aku yakin, dengan keyakinanku aku akan berhenti sampai Tuhan menuntunku masuk kedalam hati yang lebih layak daripada hatimu.
Terasa aneh ketika kita bercerita lagi, bertemu lagi, dan bercanda lagi. Entah mengapa aku selalu terdiam meliat senyummu, sehingga aku bisa lebih ikhlas menerima kali ini ceritamu bukan tentang kita lagi tapi tentang dia.
Seorang nahkoda tak pernah tau kendala apa yang akan terjadi pada perahunya ketika tersesat ditengah laut mati, seorang petani tak pernah tau apa yang akan terjadi dengan hasil panennya, begitu pula aku yang tak pernah tau kapan aku bisa menggantikan dirimu dihatiku.
Hariku hampa tanpa kabar, canda, dan senyummu. Seisi dunia musnah ketika kau tak mampu lagi ku sentuh. Semua lagu yang pernah kau nyanyikan ku putar, itu salah satu caraku mengingat suaramu. Aku benci rasa dingin dihatiku, aku tak pernah mengerti mengapa selama ini aku mampu berdiri menunggumu, tanpa tau perasaanmu. Aku tak ingin menjadi besi tua yang berkarat karna selalu mengagumimu disatu pihak saja.
Tapi sudahlah tak apa, terserahmu. Itu hidupmu, bukan hidupku. Aku tak berhak atas hidupmu, dan biarkan aku dengan hidupku yang tanpamu. Kau bebas lakukan apapun semaumu. Teruskanlah.
Aku tau waktu tak akan menjawab semua, karna waktu hanya menunggu kita untuk melihat setiap detiknya, tapi butuh usaha dan kesabaran untuk menjawab akan ada apa disetiap kehidupan kita. Karna aku mengerti kapan dan kemana cinta akan kembali pulang. Sudah layaknya cinta seperti ini bukan?
Ditulis berdasarkan perasaan yang nyata dari dua orang teman yang tetap menunggu dan berada ditengah sepi, teruntuk teman sepengertian. MS.
-by: Rain-
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar