Rabu, 16 Desember 2015

Redup

Aku terduduk disebuah bangku bambu
Bersandar dengan pepohonan
Gemericik air mengalir indah
Seruling terdengar samar

Seketika redup dengan kekosongan
Aku tersentak dan menghela nafas
Waktu semakin hilang
Waktu semakin pergi

Gundah ini menyelimuti
Doakan raga yang semakin melayu
Sendu ini tak terobati
Doakan jiwa yang semakin sepi

Alunan suaramu terdengar samar
Nyatanya aku merindumu
Baru sejenak berpisah
Namun hati redup bagai lampion usang

Malam ini aku ingin bercerita denganmu
Namun itu sulit terjadi
Kau nyata namun tak dapat tergapai
Kau ada namun tak sempat ku sapa

Redup, semakin redup
Hati ini kosong tanpa degupan
Rasa ini tak terasa lagi
Hilang dikalahkan gemericik air

Apa disana kau merasakan sepi ini?
Apa kau sadar akan kehadiranku disini?
Aku tak lagi bercahaya layak bintang yang kau sapa
Aku tak lagi hangat layak bulan yang menyelimutimu

Malam semakin larut
Jiwa semakin rapuh
Cahaya semakin redup
Hati semakin hampa

Kau yang dulu mampu gembirakan hati
Kau yang dulu menyanyikan lagu
Kini tak lagi terdengar kabar tentangmu
Kini tak lagi terlihat senyummu

Ego ini menyalahkanku
Akan kebodohan diri yang tak ingin jujur
Penyesalan itu hadir
Ketika aku melihat langkah kita semakin hari semakin jauh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar