Mengapa kau memandangku seperti itu?
Bukankah wajar jika aku senang melihatmu?
Apa kau merasa aneh?
Jangan pernah bertanya kepadaku, kenapa!
Karena kau tak pernah tau bagaimana rasanya ini.
Mencintai embun dikala pagi yang mungkin terkena matahari akan mengering.
Menyukai jingga dikala senja yang mungkin menjadi kelabu karena mendung.
Mengagumi langit biru ketika awan berjalan beriringan yang mungkin menjadi berkabut karena asap.
Itu sangat menyakitkan.
Tak perlu kau beri aku senyum dipagi nanti.
Karena senyummu tak pernah mampu pergi dari ingatanku.
Tak perlu kau menyapaku dimalam hari.
Karena sapamu tak pernah mampu membuatku tertidur.
Aku mengerti dulu kau merasa dikhianati, tapi.....
Apakah aku yang pantas menerima sakit hati karna dirimu?
Kau tak tau apa-apa tentangku.
Namun kau masuk ke dalam hidupku tanpa permisi.
Menggantikan yang lalu dan meninggalkan ku dalam sepi.
Tertawalah hingga kau puas.
Bukankah aku tak pernah berarti untukmu?
Pergi saja bersamanya, bukankah katamu aku terbiasa sendiri?
Ya, aku memang terbiasa sendiri bukan karna tak ditemani.
Tapi karna aku jera dengan tipu daya lelaki yang hanya mau meninggalkan kenangan dihati wanita tanpa harus melanjutkan kisahnya.
Pergi jauh dariku, awalnya saja aku mampu tanpamu, kenapa sekarang tidak.
Terima kasih pernah menggenggam erat tanganku, kau tak lebih dari pemberi harapan palsu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar